halo, bagaimana kabarmu? pertanyaan itu adalah pertanyaan yang selalu ingin aku tanyakan, setiap saat, tapi hingga saat ini aku belum bisa mendapatkan jawabannya. sudah hampir 4 bulan semenjak aku resmi diwisuda dari kampus kita, dan aku berada di kota yang berbeda denganmu. tapi, sekali lagi, takdir Tuhan itu lucu. rencana Tuhan tidak pernah tertebak. siapa sangka 2 bulan kemudian aku akan meniti karir untuk pertama kalinya di kota tempat kamu menghabiskan masa kecilmu dan beranjak dewasa?
aku ingat betul, ibu pondokan tempat aku tinggal selama KKN pernah bercerita, cita - citamu adalah membawa Ibumu ke Jogja. saya suka di sini, katanya menirukanmu. saat mendengarnya untuk pertama kali, aku heran. kamu yang tumbuh besar di Bandung kenapa lebih suka Jogja? bukannya Bandung adalah Jogja yang lebih sejuk? dua kota ini adalah dua kota yang paling sering diromantisasi di negara kita.
setelah hampir 2 bulan tinggal di Bandung, aku mulai memahamimu. Bandung nyaman dan sejuk, tapi Jogja hangat. hangat secara literal dan juga harfiah. terutama masalah kenyamanan berkendara. kalau soal kemacetan, Bandunglah juaranya. aku bisa membayangkan kamu stress dan lelah saat berangkat sekolah, pulang sekolah, berangkat ke tempat bimbel, pulang dari tempat bimbel. di Jogja, aku rasa kamu benar - benar menemukan kenyamanan.
mungkin terlalu nyaman hingga kamu jarang pulang. hingga sekarang, perasaanku berkata kamu mungkin masih di Jogja. berkutat dengan tugas akhir. kalau bisa dan memungkinkan, aku ingin menyemangatimu setiap hari, berkata padamu bahwa kamu pasti bisa melewatinya dan semua kesulitan ini pasti berakhir. terdengar klise, tapi memang benar adanya. aku ingin berkata padamu bahwa lulus tidak tepat waktu adalah hal yang sangat normal dan bukan masalah besar. dalam hidup, manusia akan dihadapkan dengan berbagai persoalan dan masalah, perkara skripsi dan lulus tidak tepat waktu hanyalah persoalan kecil. dan yang terpenting, aku ingin mengatakan padamu bahwa kamu sudah berusaha, dan kamu hebat, dengan caramu sendiri. semua orang tahu bahwa jurusanmu bukan jurusan yang mudah, dan jika aku yang ada di posisimu, mungkin aku sudah menyerah. oleh karena itu, kupikir kamu hebat.
sudah dua bulan aku di sini, dan aku masih berharap bahwa suatu saat nanti Tuhan akan berbaik hati menyilangkan jalanku dengan jalanmu lagi. meskipun hanya berpapasan di supermarket, minimarket, pusat perbelanjaan, stasiun, di mana saja.
NB: kemarin, saat mengikuti sebuah event di Jakarta, salah satu krunya menarik perhatianku. tidak lain dan tidak bukan adalah karena ia begitu mirip denganmu. postur tubuh gempal yang terlihat kuat, rambut berombak, hidung mancung yang selalu membuatku iri, kulit cerah, tatapan tajam, kumis tipis, gestur acuh tak acuh tapi kharismatik ala sigma male, mimik wajah yang tenang dan serius. ahh, ia begitu mirip denganmu! entah dia memang salah satu orang yang mirip denganmu di antara 7 orang yang ada di dunia ini, atau ternyata dia memang saudaramu, atau, aku hanya merindukanmu sehingga tidak sengaja menyamakanmu dengan orang asing?
Semoga di tengah hiruk-pikuk dunia yang kita pikirkan, semoga keinginan pulang dengan keadaan baik dan selamat tetap jadi yang paling menggebu dan prioritas. Dunia tak abadi, sayang.
kalau ditanya apa yang paling kusukai dan kusyukuri di tahun 2022, itu adalah saat di mana aku menemukanmu. dipertemukan, lebih tepatnya. 2022 adalah salah satu tahun terbaik di hidupku. alasannya tentu banyak, semester 6 yang menyenangkan, kuliah offline dan kembali ke jogja setelah sekian lama, memulai magang untuk pertama kali (walaupun virtual), menjadi bagian dari sesuatu yang bermacam - macam sekali, mengunjungi tempat baru, kuliah kerja nyata (siapa yang tahu aku bakal menyukainya?), dan bertemu banyak orang baru (terutama kamu!).
di paruh pertama tahun 2022, aku belum mengenalmu sama sekali. aku kira tidak akan ada yang spesial, dan kehidupan kuliahku nampaknya akan berjalan biasa saja tanpa kehadiran orang yang membuatku tersenyum sendiri seperti orang bodoh. tapi, hei, siapa yang tahu rencana Tuhan? hidupmu bisa berubah hanya dalam sekejap mata saja! aku masih ingat betul saat pertama kali melihatmu secara virtual lewat layar laptop 13inch ku. kita dipertemukan dalam kesempatan yang sama sekali aku tidak pernah menaruh perhatian padanya: kuliah kerja nyata.
jujur saja, awalnya aku sangat ogah-ogahan mengikuti acara yang satu ini. sayangnya, kampus kita kampus kerakyatan, dan kuliah kerja nyata hukumnya wajib kalau ingin lulus dan memakai toga. awalnya aku sama sekali tidak berharap apa - apa pada acara ini, lakukan yang wajib dilakukan, dapatkan nilai A kalau bisa, lalu lupakan. tapi ternyata, Tuhan baik sekali, dan rencananya selalu tidak terduga. melalui acara ini, aku banyak mendapatkan hal - hal baik. tapi, itu persoalan lain karena di tulisan ini aku ingin membahas tentangmu, lagi - lagi.
pada awalnya, aku sama sekali tidak mengenal anggota tim kuliah kerja nyataku. masuk ke kelompok ini, aku hanya iseng mendaftar melalui info yang disebar ke grup angkatan, dan tenyata yang menyebarkan info pun tidak kenal betul dengan yang menitipkan info. alhasil, aku masuk ke kelompok yang sama sekali asing bagiku. awalnya aku masa bodoh, pertama kali hadir rapat virtual pun tidak ada yang menyalakan kamera satupun, sama sekali tidak ada perkenalan antar anggota. tapi, aku ya masa bodoh, karena sejujurnya aku sendiri pun ogah - ogahan ikut KKN.
hingga, pada suatu kesempatan rapat beberapa minggu sebelum penerjunan, DPL kami meminta mengadakan diskusi terkait program kerja. mau tidak mau, harus ada yang menyalakan kamera dan menghidupkan diskusi. karena beberapa alasan yang tidak mungkin aku ceritakan di sini karena itu persoalan lain dan terlalu panjang, yang mengaktifkan kamera dan menghidupkan diskusi hanya anggota laki - laki, salah satunya, kamu.
aku masih ingat betul apa yang kupikirkan saat itu. kalau boleh jujur, aku sedikit shock. aku punya 2 asumsi terhadap kelompokku sebelum itu: 1. mereka luar biasa pendiam atau cenderung pasif, 2. mereka sama sepertiku, tidak niat ikut KKN atau terlalu sibuk memprioritaskan hal lain. ternyata, aku salah besar! mayoritas dari mereka aktif dan terlalu ’all out’ dalam mengeksekusi program kerja kkn. salah satunya, kamu.
saat itu, kalau boleh jujur, aku sudah kagum padamu. ketika mengemukakan ide - idemu tentang penerapan teknologi, kamu tampak sangat bersemangat. passionate, kalau kata orang - orang. entah aku yang awam atau kamu memang jago, ide - idemu tampak sangat keren dan sulit direalisasikan. aku kagum, tapi juga skeptis. tapi, sungguh, saat rapat selesai, aku hanya sekadar kagum padamu, tidak lebih.
hingga akhirnya ada rapat lagi setelah itu. aku ingat betul, saat itu aku menyimak sembari terbaring kelelahan sehabis mengikuti workshop virtual yang sangat menguras fisik dan mental. anehnya, saat tiba giliranmu presentasi, aku mulai senyum - senyum seperti orang bodoh. saat itu, kupikir kamu lucu. presentasinya kepada DPL dan teman - teman jurusan lain, kok, bahasanya teknis banget? sampai menyebut satuan rotation per minute, aneh banget. ngomong - ngomong, virtual backgroundmu saat itu lucu juga deh. ada foto singa dan zebra, kalau tidak salah. atau singa dan kuda?
tapi, berkat itu, aku secara tidak sadar jadi lebih memperhatikanmu. akan kutulis fakta - fakta tentangmu yang aku tahu di postingan lain, tidak di sini karena akan terlalu panjang. pokoknya, sejak saat itu, aku tahu, KKN kali ini tidak akan berjalan sesepi dugaanku awalnya. akan ada sesuatu yang menyenangkan, dan, kamu menjadi permulaannya.
tapi, ternyata oh ternyata, Tuhan memang punya caranya sendiri. ketika sudah penerjunan hingga penarikan kembali, nyatanya, di lokasi KKN aku sama sekali tidak ada perasaan apapun padamu. ya netral saja, seperti pada teman - teman yang lain. kalau boleh jujur, aku sempat berprasangka tidak baik tentangmu. salahkan semua itu pada kabar tidak menyenangkan tentangmu yang datang padaku, yang, hampir semuanya, didasarkan pada asumsi belaka. sisanya, kesalahpahaman.
katanya, kamu keras, cuek, selalu terlihat seperti sedang marah, kekanak - kanakan, tidak peka, tidak baik, cengengesan, tidak mau di chat by PM oleh teman perempuan, menutup telepon sesuka hati (walaupun aku melihat langsung kejadian ini) dan intinya, tidak menyenangkan.
tapi, aku juga mendengar kabar baik tentangmu, dan melihat langsung kamu berbuat baik. kamu tersenyum pada ibu - ibu di desa yang sedang kerja bakti, kamu yang piawai bercakap - cakap dengan bapak - bapak dan ibu -ibu, saat kamu mengobrol santai dengan bapak dan ibu pondokan, kamu yang banyak membantu orang lain, banyak membelikan makanan untuk teman - temanmu, omongan bapak ibu pondokan yang baik - baik tentangmu, kamu yang laki - laki dan mau repot - repot memasak masakan rumit untuk kami semua (masakanmu enak by the way, tidak ada yang gagal, walaupun aku tahu kamu pakai bumbu instan, hehe), kamu yang mau repot - repot mengantar teman - teman perempuan main ke pantai dan sempat - sempatnya berpesan kepada teman laki - laki satu lagi yang memimpin rombongan di depan untuk tidak ngebut dan menyalip kendaraan (sayang sekali saat itu aku sakit sehingga tidak bisa ikut), kamu yang gercep mengganti cobek milik ibu pondokan saat temanmu tanpa sengaja meninggalkannya di tempat kami, hingga kamu yang langsung minta maaf begitu sadar perkataanmu menyinggung orang lain walaupun hal tersebut benar. 2 kata untukmu: how cute. temanku yang kuceritakan tentangmu pun setuju, lho.
namun, aku baru sadar kalau kamu dan tingkahmu itu manis satu bulan setelah penarikan kkn. aku masih ingat betul, pagi itu aku hendak ke perpustakaan fakultas untuk mengerjakan proposal skripsi. aku berangkat setelah makan dari kost pukul sembilan lebih. langit mendung, tapi rintik hujan belum turun. seperti biasa, aku memesan ojek online. drivernya bilang, ia tidak ada jas hujan. aku bilang aman - aman saja karena memang belum hujan. di perjalanan, rintik hujan mulai turun. saat melewati gang di pogung yang dekat dengan fakultasmu, yang banyak kapolri tidurnya, hujan pun mulai deras. awalnya, aku sama sekali tidak menyadari kehadiranmu. di ujung gang, saat hujan mulai deras, pengendara motor di depanku tiba - tiba banting setir ke kanan, ke tempat pedagang es jeruk. entah untuk berteduh sejenak, memakai jas hujan, atau beli es jeruk. orangnya pakai motor beat plat D, motor yang sebulan lalu selama beberapa minggu rajin parkir di depan pondokan KKN ku. pakai jaket hitam bertuliskan keluarga mahasiswa departemenmu. persis seperti yang sering kau pakai saat KKN dulu. dan, orang tersebut pakai tas eiger navy seperti yang kulihat pernah kau tenteng saat KKN dulu. ah, itu pasti kamu! kok bisa ketemu? oh ya, kata salah satu temanmu, kos kita kan memang dekat! aku hanya melihatmu sekitar 3 detik saja, dari belakang. tapi, entah kenapa, aku senang sekali. padahal, sebelum - sebelumnya, sungguh, aku tidak pernah terbesit pikiran tentangmu.
karena driver ojek onlineku tidak ada jas hujan, ia pun ngebut, hujan turun dengan derasnya, sampai depan perpustakaan, bajuku basah kuyup. aku tidak mungkin mengerjakan proposal skripsi dengan keadaan seperti ini di ruangan ber AC, yang ada aku mual - mual karena masuk angin. dengan pasrah, kuminta driverku untuk mengantarkanku kembali ke kos, tidak jadi mengerjakan proposal skripsi di perpustakaan fakultas. normalnya, saat itu harusnya aku kesal. sudah effort siap - siap, dandan, pakai baju baru, sedang semangat - semangatnya mengerjakan skripsi, tapi semuanya batal dan aku basah kuyup. tapi, karenanya, aku jadi tanpa sengaja bertemu denganmu, aku tidak kesal sama sekali. aku bahkan kembali senyum - senyum sendiri seperti orang bodoh.
sejak saat itu, aku pun mulai merenungkan perasaanku sendiri, dan mulai memikirkan tuduhan - tuduhan berdasarkan asumsi dan kesalahpahaman tentangmu. hingga akhirnya aku sampai pada 2 kesimpulan: 1. sepertinya aku suka padamu. 2. teman - temanmu salah paham dan berasumsi tentangmu, tingkahmu baik dan manis tapi memang butuh pemahaman dan perenungan untuk menyadarinya.
walaupun merasa ini hal yang salah, namun, seperti layaknya perempuan lain, aku pun menggali - nggali informasi tentangmu di internet. berusaha menemukan jejak digital yang tersisa. tidak banyak yang kutemukan, sungguh. entah kamu yang memang tidak suka main sosial media atau kamu yang rajin beres - beres jejak digital. intinya, aku hanya menemukan artefak akun twitter dan facebookmu saat SMP yang sudah bertahun - tahun tidak aktif. aku tahu itu akunmu, karena, typing dan ketertarikanmu ternyata tidak berubah ya, haha.
karena sepertinya tulisan ini sudah terlalu panjang dan aku sudah mulai mengantuk, akan kuhentikan sampai sini. meski aku tidak tahu apakah kita akan dipertemukan lagi suatu hari nanti, tetapi, aku selalu mengingkan hal itu terjadi. semoga, kita diberi kesempatan untuk mengenal satu sama lain lebih dalam lagi, yang entah kapan.
beberapa waktu yang lalu, aku membongkar barang - barangku dari kamar idekos di Yogyakarta setelah sekian lama. kutemukan kepingan - kepingan kecil dari masa mahasiswa baru. saat aku mengikuti ospek kampus, menjadi bagian dari suatu universitas dan fakultas yang menjadi impian banyak orang, menjadi anak kos untuk pertama kalinya.
kutemukan ID card semasa orientasi mahasiswa baru dahulu, lengkap dengan foto bersama teman - teman satu gugus PPSMB. sungguh mengherankan apa yang bisa dibuat oleh kartu berukuran 10 x 15 cm itu. bukannya teringat tentang memori bersama teman satu kelompok ospek, aku malah teringat padamu.
takdir baru mempertemukan kita di penghujung masa kuliah. sejak saat itu, aku sering bertanya - tanya, menarik benang jauh ke belakang, tentang masa - masa yang kita lewati tanpa mengetahui keberadaan satu sama lain. seperti apakah kamu melaluinya?
bagaimana perasaanmu saat melihat warna hijau di laman pengumuman LTMPT? bagaimana perasaanmu saat berjalan bersama ribuan mahasiswa baru lainnya dari bundaran UGM menuju ke GSP? apakah teman-teman gugusmu menyenangkan? apakah kau juga berharap kita mendapatkan makan siang setiap hari seperti saat ospek? apakah kau sebal dengan kakak tingkatmu saat ospek fakultas dan jurusan? bagaimana ujian pertamamu? apakah kau juga frustasi saat pertama kali melihat kartu hasil studi? mata kuliah apa yang paling kau sukai? bagaimana kerja praktikmu? bagaimana progress tugas akhirmu? bagaimana kabarmu?
terlalu banyak hal yang ingin kutanyakan kepadamu. terlalu banyak cerita yang ingin kudengar darimu. hari ini ulang tahunmu, ada ucapan dan doa yang ingin kusebut dan kuingin kau dengar. tapi, ada jarak ratusan kilometer membentang antara kita. aku bahkan tidak tahu di mana kini kamu berada, mungkin di jogja, atau bisa juga lainnya. aku rindu, tapi tak ada yang bisa kuperbuat, dan mungkin itulah yang terbaik.
i hope you find someone that matches your capacity to love
“The soul always knows what to do to heal itself, the challenge is to silence the mind.”
— Book of serenity
Kita pada hari ini barangkali sebab doa yang pernah kita pinta kepada Allaah di masa lalu, atau doa kedua orang tua kita untuk diri kita. Kala diri dipersimpangan sebuah keputus asaan hidup, kita meminta kepada Allaah dengan seluruh kemampuan yang kita miliki, atau seluruh upaya yang lekat dengan diri kita untuk bertemu dengan takdir yang kita pinta. Kita meminta dengan apa yang kita inginkan, tanpa menilik kembali apakah hal itu baik untuk diri kita atau untuk agama kita. Kita terkadang lupa akan hal itu
Lalu, ketika Allaah menempatkan kita hari ini tersebab permohonan kita di masa lalu yang ingin sekali terwujud, mengapa selalu saja terasa kurang sempurna untuk dicecap? Mengapa kita masih saja merasa begitu kelelahan dengan apa yang kita dapatkan pada hari ini? Bukankah itu adalah bagian dari doa yang pernah kau pinta, namun kau lupa?
Maka jika pada hari ini kita merasa begitu lelah, mohon ampunlah kepada Allaah. Tersebab tidak tahunya diri kita dengan apa yang kita minta, tidak tahunya diri kita dengan apa yang memang baik untuk diri kita. Takdir Allaah adalah yang terbaik, Allaah tak akan menempatkan diri kita pada takdir yang tidak baik.
Memohon kebaikan hidup agar diberikan keselamatan dunia dan akhirat. Memohon kebaikan hati dan kelapangan dalam hidup agar tenang dalam menjalaninya. Memohon kepada Allaah agar pilihan yang kita pilih tidak membuat kita lelah dan ingin menyerah dalam kondisi apapun.
Jangan pernah mempertanyakan takdir Allaah mengapa begitu sukar untuk dijalani. Namun bertanyalah kepada diri, permintaan apa yang sudah kita pinta di masa lalu tentang dunia. Yang membuat kita merasa begitu sangat kelelahan dan ingin berhenti saja. Bertanyalah pada diri, tanyailah diri sendiri. Semoga Allaah mengampuni...
You’re kind to others, so you can be kind to yourself! 💛
"No one wants to work anymore." Damn right brother. If I could sit in a beautiful field for 40 hours every week of my singular precious life I would
Pernah nggak merasa malu banget sama Allah. Malu ketika Dia udah baik banget ngasih berbagai kebaikan dan kemudahan dalam hidup kita. Tapi kita dengan kurang ajarnya masih gini-gini aja.
Gini-gini aja ibadahnya. Gini-gini aja imannya. Gini-gini aja takwahnya. Gini-gini aja rasa takut pada-Nya.
Pernah nggak merasa malu banget sama Allah. Malu ketika Dia udah sering menunjukkan kebesaran-Nya. Menunjukkan ke Maha Besarannya. Tapi kita masih aja berbuat dosa. Masih aja nggak ada rasa takut dan merasa diawasi oleh-Nya.
Malu ketika Dia udah sering membangunkan kita—dengan berbagai tanda dan cara, di sepertiga malam untuk berdoa, meminta apa pun pada-Nya. Kita dengan berbagai alasan lebih memilih untuk menunda dan mengabaikannya.
Malu ketika manusia sering menganggap kita sebagai yang seseorang yang baik hatinya, bijak perkataannya tetapi yang paling mengetahui apa adanya kita hanyalah Dia saja.
Pernah nggak merasa malu banget sama Allah?
Saat kita melakukan kesalahan pada manusia, atau ketika mereka mengetahui hal memalukan dari kita. Kita pasti memilih untuk membuang buka, bersembunyi dan menjauh dari mereka.
Namun, mengapa kita melakukan hal yang sama kepada Allah juga?
Bukankah saat kita merasa malu, seharusnya kita malah semakin mendekat pada-Nya? Mengakui rasa malu kita, mengakui ketidaktahuan diri kita sebagai hamba-Nya, meminta maaf atas semua dosa-dosa kita kepada-Nya.
Namun, mengapa kita malah menghindari-Nya?
Mengapa kita masih begini-begini saja?